Sejarah Desa

  • Sejarah Desa
  • Asal-usul/Legenda Desa

Tertulis berdasarkan cerita sesepuh secara turun temurun, sekitar abad ke-15 M di wilayah timur Kadipaten Pati, hiduplah sekelompok masyarakat yang hidup rukun dan damai di daerah pedesaan yang subur, gemah ripah loh jinawe. Kehidupan mereka tergolong masih primitif. Pada masa itu yang merekaketahui hanyalah menanam padi pada waktu musim penghujan dan ketela pada musim kemarau yang dikerjakan secara tradisional. Oleh karena itu, walaupun tanahnya subur, padi yang dihasilkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Sehingga kehidupan mereka sangatlah pas-pasan. Walaupun demikian mereka tidk pernah mengeluh dan putus asa untuk menjalani kehidupannya.

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, mereka mengolah padi menjadi beras yang dikerjakan secara tradisional pula. Yaitu dengan cara “NUTU”(menumbuk) padi yang diletakan di dalam “LUMANG” dengan alat tumbuk yang disebut “ALU” yang terbuat dari kayu. NUTU adalah menumbuk padi dengan tujuan untuk mengelupas kulit padi (sekam), sehingga menjadi beras. Cara menumbuk padi ini adalah dengan “Ngumbulno alu” (mengangkat alu), yang kemudian dijatuhkan di dalam “Lumpang” yang berisi padi. Hal ini dilakukan oleh masyarakat secara bergotong royong dan bergantian dengan tetangga terdekat setelah musim panen tiba. Sehingga hampir setiap malam terdengar suara orang “nutu” padi. Dari kata “ngumbulno alu” inilah daerah ini terkenal dengan nama Mbulu. Yaitu dari kata “Mbul” dan “Lu”. “Mbulu” singkatan dari “Ngumbulno” dan “lu” singkatan dari “alu”.

Pada pertengahan abad ke-19 M, kehidupan masyarakat Mbulu telah mengalami kemajuan yang pesat. Hasil panen padi mereka sangat melimpah. Sehingga, desa Mbulu ini dikenal masyarakat diluar desa dan bahkan sampai diluar kabupaten. Hal ini ditandai dengan adanya saudagar / pedagang yang datang dan menetap di Mbulu untuk berdagang padi dan beras, salah satunya bernama GOIPO. Kehidupan masyarakat Mbulu menjadi semakin “Mulyo” (makmur dan sejahtera). Karena setelah kehadiran Goipo, padi yang tadinya hanya disimpan di dalam Lumbung, kini bisa mereka jual kepada Goipo. Dan hasil dari penjualan itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Misalnya kebutuhan sandang (pakaian) dan papan (tempat tinggal/rumah). Selain itu, mereka memperoleh tambahan dengan bekerja “nutu” padi di tempat Goipo. Karena banyak berjasa, Goipo kemudian ditunjuk menjadi “penggede” (pemimpin) di Mbulu.

Singkat cerita, akhirnya terbentuklah sebuah desa yang bernama “Bulumulyo” dan Goipo menjadi kepala desanya (tahun tidak diketahui), yang wilayahnya meliputi Dukuh Japah dan Dukuh Mbulu. Mereka memberi nama Bulumulyo, karena demngan adanya “ngumbulno alu” (mengangkat alu) kehidupan masyarakat bertambah “mulyo” (makmur dan sejahtera).

  • Sejarah Pemerintahan Desa

Tabel 1. Sejarah Pemerintahan Desa

NAMA-NAMA DEMANG/LURAH/KEPALA DESA SEBELUM DAN SESUDAH BERDIRINYA DESA BULUMULYO

No Periode Nama Kepala Desa Keterangan
1 Tidak diketahui GOIPO  Pertengahan Abad ke-19
2 Tidak diketahui SOYUDHO WARSO  Sebelum tahun 1901
3 1901 – 1921 JUGIL
4 1921 – 1945 SARWI
5 1945 – 1965 DARIMIN
6 1965 – 1988 WAIDI COKRO WIYOTO
7 1989 – 2008 NYOHADI
8 2008 – 2021 MULYONO